Aku bukanlah perindu senja. Senja hanya pelampiasan mereka yang temunya masih tertunda.
Tapi, Senja mengajariku satu hal. Bagaimanapun indah spektrumnya, tetap saja akan jadi gelap gulita. Begitupun dengan cinta.
Cinta yang membara, akan tetap padam pada akhirnya. Jangan tergesa-gesa.
Menjaga hati bukan seperti menjaga ayam. Sekali lempari makan, ia akan mendekat. Cinta bukan mudah kau ucap, lalu ia mudah kau tangkap. Cinta adalah sabar dan ikhlas. Sabar sampai membuatnya bergetar, ikhlas sampai bila tak berbalas.
Di penghujung lelah, aku hanya bisa berkata. Jangan lelah bertahan pada jarak. Sampai pada waktunya, kita akan bersama berbicara kasih sekali tertawa terbahak-bahak.
Selamat, senja.
Kamis, 29 September 2016
Rabu, 28 September 2016
Apa aku manusia?
Aku sudah menulis terlalu banyak catatan hitam di bukuku. melewati setiap muka halaman dengan penuh sesak dan malu.
merobek bagian yang lalu bukanlah jalan bijak. apalagi tak ada niatan untuk lekas beranjak.
lembarku tak berujung. hanya Dialah yang berhak menentukan.
merevisi manuskrip nyatanya tak semudah yang terkira. bagaimanapun aku hanya bisa melengkapi halaman setelahnya.
aku berharap baik meski aku tak selayaknya dipanggil apik.
entahlah, pada malam sejuk seperti ini aku merinding bisakah aku merasaka lagi esok hari?
banyak tertawa dan bercanda membuatku lupa pada hakikatku manusia tanpa daya.
selamat malam, apakah aku manusia?
aku bisa apa? manangis? mengais? atau justru teriak penuh histeris?
apa aku manusia?
Hai hati, mari berdamai!
mari segera berdamai, sudah tak ada lagi yang melerai.
bagaimanapun kamu adalah aku, dan aku adalah dirimu.
kita sering bersalah sangka karena banyaknya praduga.
hai hati. kau adalah yang aku andalkan memilih pagutan paling tepat. tapi kenapa kau malah bergelok mencari hal yang suka berkhianat.
akhirnya kau kesakitan, bukan?
kau merasa perih, aku yang merintih.
aku mau pergi sendiri jelas mustahil karena kau adalah hakim dari segala keputusan yang aku ambil.
maka, mari berdamai.
mereka bilang, ada bahagia dibalik duka. baiklah aku menunggu bahagia. tapi, mereka kini nampak bahagia? apa mereka sebenernya menutupi duka dengan pura-pura?
sudahlah. besok kita lihat saja apakah kau masih egois atau sudah siap menebar senyum manis.
hai hati, berdamailah.
رب انى ظلمت نفسى فاغفرلى ذنبى فانه لايغفرالذنوب الا انت
Senin, 19 September 2016
Aku Mengenal Cinta Sebagai Kesendirian Dan Kau Mengucap Cinta Demi Merangkul Kebersamaan
Andai saja dulu kita tidak terjebak pada rasa yang labil. aku yakin hati kita tidak akan dingin menggigil. ingat kah dulu kita sering bercerita di malam hari? aku yang bertanya kau sedang apa dan kau menjawabnya tidak sedang apa-apa. begitu saja terus sampai waktu berlalu. anehnya, tak ada sebesit rasa bosan padaku. apa karena kau adalah seorang yang aku gugu?
tapi sudahlah, dulu jelas beda dengan sekarang. kau kini milik orang. tentu bukan aku yang sudah gugur pulang. aku tidak ingin mengajak kau mengingat lagi kebiasaan kita di saat lalu. aku hanya ingin mengulang sekali kebiasaan kita agar tidak ada rindu.
bila memang kita tidak bersama, setidaknya kau pernah menjadi orang yang paling berharga.
terimakasih para pengarang lagu galau dan rindu, berkat kalian menambah rindu menjadi sembilu.
beberapa waktu yang lalu kau adalah selingan pasangan semasa kembara hati. apa-apa yang kau ucapkan selalu bisa membuatku lepas kendali. membawaku untuk mengikuti jala ceritamu, mengikuti bagaimana kau bercerita soal hati yang dipatahkan.
seiring berjalannya waktu, kau tak lagi nampak berharga. ternyata kita benarlah berbeda. apa yang kau ceritakan tak seperti yang tengah aku rasakan.
aku mengenal cinta sebagai kesendirian, dan kau memuja cinta untuk merangkul kebersamaan.
sekali lagi terima kasih telah bercerita tentang sakit, meskipun aku adalah orang yang sulit menerka kinerja hati yang rumit.
semoga dilain waktu, kau bergantian membaca kisahku.
pada malam yang semakin berat menampung bintang, aku titip salam pada semesta.
apa dia masih bisa tegar atau semangatnya perlahan pudar?
dunia ini penuh ketidak jelasan yang membingungkan. masih banyak misteri yang mengantri untuk dikuak.
#fiktif #malam
Sabtu, 10 September 2016
Satria
bagaimanapun, Satria masih mengingat julukan yang dulu pernah disematkan padanya. sebelum semuanya berakhir mengurai tangisan getir.
sebenarnya kau boleh pergi sesuka hati, namun setidaknya pergilah dengan bijak dan permisi. bukan seperti ini.
saat ia menaruh dirimu pada tempat terdalam, kau malah tega menghujam.
terkadang cinta memang begitu. seorang yang dicintai mebabi buta sering bertingkah ia lah yang paling berharga.
setidaknya ia kini tahu, kau bukan orang yang pantas dipertahankan mati-matian.
mungkin saat cinta lain datang, kisah ini menjadi pelajaran untuk jangan melulu berjuang sendirian.
selamat malam,Satria. ini malam minggu. Jikalau kau tak terima dengan cinta yang lalu, putar saja lagu sendu. berharap saja esok hari kau di pertemukan pada kisah yang baru. orang yang bisa menorehkan bangga, bukan luka.
Beristirahalah Senja Kini
selamat siang pria yang rentan di sapa kekecewaan.
bagaimana kabarmu menuju petang? masih gelisah, tegar, atau ingin segera beranjak pulang?
bila memang pohon bisa tumbuh dibadan. lantas aku yakin, bahwa pipimu akan nampak dedaunan. ia terlalu sering kau airi air mata. subur memupuk kesedihan yang menjadi-jadi.
bila memang tidur mampu menghilangkan sakit, maka aku yakin kau akan tidur sekarang dan berharap tak bangun lagi. kau boleh seenaknya merangkai asa dalam mimpi, bila sudah bosan menuai sakit hati.
namun, matamu tak ingin kau berandai. ia mengajakmu melihat jauh dari balik jendala. tentu, karena banyak misteri yang belum kau raba.
istirahatlah senja kini, bersemangatlah esok hari.
Senin, 05 September 2016
Kita adalah sepasang mata dan cerita
Kesedihanmu yang kau ramu dalam aksara, mengajariku bagaimana menjadi pria yang yang selalu siap menjelma sebagai obat penawarnya.
Kekecewaanmu pada cinta yang labil, mengajariku mencari kedewasaan agar turut andil.
Kita adalah sepasang mata dan cerita. Kau bercerita dan aku siap membaca di tiap halamannya.
Aku belajar dari masa lalu mu, mengais puing-puing yang pernah di robohkan menjadi utuh seperti diawal perkenalan.
Bila kau menulis pernah disakiti, maka aku akan semakin giat memahami.
Lagi lagi, kita adalah sepasang mata dan cerita.
Terimakasih untuk berbagi sakit. Membuang jauh-jauh segala kenangan yang tak ingin kau ungkit.
Kita tak pernah berkenalan meski hanya berjabat tangan, karena kita hanya sepasang mata dan cerita.
Jumat, 20 Mei 2016
Goa pustaka
tetua duduk sila didalam sunyinya goa.
menatap ke langit-langit untuk ilham datang menyapa.
lalu kini, goa menjelma jadi objek wisata.
terlalu ramai untuk berkhalwat ria.
goanya runtuh sudah.
lalu hendak kemana dia berjalan mencari apa yang mereka kata?
terlalu banyak kebisingan dalam gua megah.
ilham tercegah!
kemana lagi dia cari ilham? haruskah dia tunggu gelap malam demi ketenangan dibawah lentera temaram?
dia bilang tidak!!
goanya terselip di deretan tataran massive.
lalu dia bertemu sederet bait dalam manuskrip-manuskrip tertata rapi dalam ruang sempit.
itulah gua ilhamnya, gedung pustaka jendela dunia!
Yuk membaca
Selasa, 10 Mei 2016
Amperno Sedelok Kanggo Ngopi
Ampirno wektumu sedelok kanggo ngopi.
Lerenke atimu sedelok kanggo nyawang awone diri.
Lurusno niatmu kanggo wektu bare saiki.
Jasad lumaku terus dadi mayat.
Ora ono kinurmatan rikolo sukmo den dudut minggat.
Akal tansah mundak nakal nuduhi tambahe akal.
Sepirone awakmu ngajeni jasad tinimbang manah?
Sepiro adohe akalmu iso mbujuk manah?
Ora sah sedih karo gebyaring dunyo.
Sawangen kopimu! Peteng pora?
Yo ngono kuwi Petenge.
koyo ngono kuwi petenge rikolo awakmu di tilar dewe tapak kesepuluh dzuriyah lan tamu loro nekani marang pitakon.
Senengmu pahit opo legi? Nag pengen radi manis lan padang, tambahono "labnun" setitik kanggo madangi petenge kopimu.
Koyo ngono kuwi, opo seng madangi atimu iku seng nambahe manis neng sukmamu.
Soko saiki, ampirno sedelok wektumu kanggo ngopi.
Men kowe ngerti, Sepirone peteng kopimu, kiwo tengen lan jobo jeromu.
Minggu, 08 Mei 2016
Lalu aku yang mana (menurutmu)?
Mereka bilang "guru" itu pahlawan tanpa tanda jasa.
Mereka juga bilang "guru" itu hebat tak terkira.
Mereka juga bilang "guru" itu jembatan asa dan cita.
Lalu mereka berdalih "guru" merampas hak.
Lalu mereka berucap "guru" itu galak.
Mereka juga berucap "guru" itu hanya berlagak.
Agama berucap "guru" harus begini
Sosial berkelakar "guru" tak boleh begini.
Filsafat berpendapat "guru" semestinya begitu.
Tapi adat setempat "guru" tak semestinya begitu.
Lalu, aku apa menurutmu? ??
#catatangurumuda