Minggu, 02 Juli 2017

Jomblo sebagai solusi anti-liberal

Sedemikian rumit tentang manusia, apalagi mengaitkannya pada tataran sosial dan politik negara. carut marutlah sudah semuanya.
cuma, aku tidak akan terlalu banyak membahas soal itu, toh semuanya hanya akan mnjadi kentut sebagaimana durna mengalahkan semar kala berseteru.

hanya salah satu pandangan saja perihal liberalisme yang dibalut dalam balutan romantisme. ini adalah sebuah strategi alibi yang sangat menarik, bagaimana sebenarnya romantisme hanya sebagai klub oposisi realisme menjadi partner liberalisasi.
baik, jadi begini.
liberalisasi yang tengah melanda anak muda jaman sekarang adalah keterbebasan memberikan definisi 'cinta dalam asmara'. kemunculan definisi ini ditanggapi salah kaprah oleh mereka yang menjadi pencandu cinta. mereka mengatanamakan konsensus asmara antara dua hati yang terpagut sudah menjadi hak milik secara konvensional. baiklah, tibalah idealis logika untuk menagih hak kepemilikan tadi. batasan-batasan seperti aturan dogma dan norma sudah tidak digubris lagi karena cintalah yang membebaskan mereka sebagai manusia penuh emosi dan rasa.
aktualisasi miss-persepsi mengundang tindakan semena-mena. pertama, menjadikan pasangan sebagai seorang yang berhak diapa-apakan. kedua, adanya alterasi unsur pacar menjadi papa-mama (kontekstual). yang ketiga, menjadikan neuro-development mengalami overlapping. konsekuensi dari thesis ini menjadikan fakta yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. hamil diluar nikah, free sex, ejakulasi maturisasi dini, penyakit behavioral cronic, mengesampingkan kearifan lokal. gejala ini bukan tanpa sebab, seperti halnya yang dipaparkan newton "benda akan bergerak mengikuti garis lurus. akan terjadi belokan saat ada pengaruh gaya dari luar". teori ini berkesinambungan dengan realita bahwa awalnya kita adalah manusia yang damai dalam aturan norma dan agama, namun digeser dengan agitasi berita, eksploitasi erotisme, bahkan akulturasi yang sedemikian bebas.

lantas bagaimana dengan penanggulangannya? seperti apa yang diusung falsafah para kaum moderat, junjung nilai Jomblo. karena jomblo yang bernilai tinggi akan menjadikan stigma contra-realation. jomblo sampe halal, ta'aruf, jomblo gaul, jomblo itu prinsip, adalah term-term yang bagus sebagai manifestasi nilai dogma dan norma. jadi, masih gak pede jadi jomblo? save jomblo untuk keutuhan NKRI dan generasi muda.

(tulisan ini dibuat berdasarkan kajian diskusi bersama para siswa SMA yang pro-jomblo)

Senin, 19 Juni 2017

Cermin Realitas

(Sebelum membaca, tolong hilangkan dulu pikiran tentang surga dan neraka, dosa dan pahala, akhirat dan alam barzah-catatan penulis)

Tan Ho Seng pernah memaparkan pada materialisme dan merxisme tentang kemakmuran sebuah Negara. Substansi materialism tidak perlu disandingkan dengan logika mistika. Korelasi dari pada statement ini adalah perihal kampus yang sekarang digadang menjadi gudang produksi masa intelek. Yang menjadi pertanyaannya, ada dikotomi tentang kampus elite dan biasa saja. secara klise, kampus yang sudah berdiri sejak antek-antek Belanda menyerang, atau semenjak Bung Karno berpidato macam Raja Singa di podium menggaungkan proklamasi, sudah melakukan konsolidasi ekspansi dan pencitraan di kalangan makhluk pribumi. Lain dari pada itu, kampus yang berumur sebentar menjadi korban pelecehan. Bagaimana tidak dilecehkan, sudah kampusnya biasa saja eh masih saja dianggap kurang memuaskan pelanggan. “Sudah jatuh tertimpa tangga” mungkin tepat untuk kelompok kedua. Sudah niat baik menjadikan pendidikan ladang bursa saham eh malah terjerembab.

Sedikit melihat paham pragmatis dari pada filsafat keilmuan. Bahwa segala sesuatunya memang benar berdasarkan fungsinya. Otak, kepala, mata, jantung, dan sebagainya secara fungsi menjadi prior dalam anatomi tubuh. Namun, jangan pernah lupakan tulanng belakang sebagai penyangga mereka semua. Kembali lagi ke kampus, idealnya bila mahasiswa kaum idealism, yang terbuang dari kampus elite dan terlempar pada kampus yang biasa saja, akan terus membandingkan dikotomi tadi. Mirisnya, mereka lupa di titik mana dan siapa yang mengasuh mereka. Kampus besar adalah mereka yang menjebol pidato DPR dan kepresidenan di istana Negara, tapi setidaknya lihat lah juga jebolan wisudawan yang menjadi napi, gembong sindikat narkoba, koruptor kelas bangsat, dan penjilat ulung paling beruntung. Semuanya menggunakan jaringan massive di Negara entah berantah ini, dan jelas bukan wisudawan dari hutan belantara.

Kenapa harus begitu? Ya mungkin saja logika kita belum bisa menerima dikotomi ini. namun, ini lah kenyataanya. Sekarang pertanyaannya adalah, mahasiswa dari kampus biasa saja adakah yang menjadi birokrat atau pejabat Negara? Kalau hanya sebagian saja , cukup untuk disyukuri. menengok analogi perebutan sel telur oleh sperma, dari sekian ribu bahkan juta partai sperma hanya akan ada satu saja yang masuk pada sel telur. selainnya, pergi mengembara. dari sekian pendaftar kampus biasa yang masuk, tidak semuanya menjadi birokrat, yang lain? mengembara (seharusnya pengembara ini yang perlu ditekuni eksistensinya). Permasalahannya lagi adalah, pejabat dari kampus biasa tertentu suka memberikan orientasi doktrinasi yang tidak praksis. Orasi yang dikoar-koar hanya sebatas cita-cita mistika yang jelas-jelas sudah didapatkan di surau dan rumah perasingan, atau mungkin tentang cita-cita yang sering diucapkan guru kala tanya di sekolah dasar tingak 1. Harusnya seimbang dengan sudut pandang realistis juga. Kenapa tidak ditunjukkan orientasi yang progressif? Misalnya, berikan saja analogi perusahaan. Perusahaan yang memiliki omzet besar dan memiliki daya jual tinggi, tidak akan bisa berjalan bila roda perekonomian tidak di jalankan. Pengusaha, pekerja, wiraswasta, adalah penggerak roda ekonomi Negara. Lalu kenapa harus repot-repot kuliah buat jadi ahli retorika? Perlu ditekankan untuk menjadi mahasiswa yang kreatif dan tangkas dalam mengembangkan potensi diri. Jadikan diri sendiri menjadi pribadi yang bekerja. Bukankah itu lebih realistis? (lihat dikotomi yang pertama)

Caranya bagaimana untuk mengembangkannya? BACALAH BUKU! Dengan membaca buku, setidaknya kita bisa mengenal metodolgi berfikir defensive dan offensive. Presenter akan membaca buku jurnalistik, guru akan membaca buku pendidikan, agamawan akan membaca kitab suci, pengusaha akan membaca buku bisnis, dokter akan membaca buku anatomi, seniman akan membaca buku seni, dan MANUSIA MEMBACA BUKU.  Sekali lagi, dunia ini bukan tentang pekerjaan, tapi tentang bertahan hidup. Jadikanlah dunia ini dunia kita, jangan jadikan dunia orang lain menjadi dunia kita. Yang hal demikian menjadikan paradigma stereotype yang konservatif dan paradoks. Jangan terlalu merendah diri sendiri, kita bisa hebat karena kualitas diri.

Jumat, 19 Mei 2017

Negeri Pantat dan Kelamin



Lucunya negeri supmak. Pertama kali Bagong menginjakkan kaki di negeri yang diisi banyak cendekia berasas syari’at “selamat”. Bagong punya ekspektasi yang luar biasa hebat kedepannya. Ia akan menjadi makhluk berakal, berbudi, juga bermoral. Pengetahuan Bagong yang sedikit itu dipercayainya akan menjelma menjadi kumpulan teori praksis yang akan menyelamatkan lingkungannya di dusun kancut. Idealisme Bagong akhirnya dipupuk dari dogma paling dasar soal visi dan misi yang terpampang jelas di depan gerbang. Kalau tidak salah, tulisannya “pada tahun mendekati kiamat negeri ini akan menjadi rujukan syari’at selamat bagi negeri lainnya.” Bagong menyungging bibirnya, dalam batinnya amat kagum dengan deretan aksara yang hanya bisa ditulis oleh para pemikir ulung yang sudah memakan buku lalu mengeluarkannya di toilet.

Tahun pertama Bagong lalui dengan bangga. Karena negeri ini memiliki regulasi bahwa warga yang bermasa depan cerah adalah mereka yang mendapatkan stempel mirip symbol Yoni dalam kepercayaan tetangga. Bagong benar mendapatkan stempel tersebut setelah melewati ujian kognitif.
Tahun kedua dan seterusnya, sembari Bagong makin dewasa, ia heran dengan paradigma sosial di negerinya. Namanya juga Bagong, makhluk kampung, tahunya juga tabiat desa dan wejangan yang diberikan guru suraunya. Nampaknya ia mulai mendapatkan perbedaan dari sini. Pertama, delalah Bagong itu berkecimpung di dunia mendidik, ia mengucapkan salam kepada salah seorang aparat Negara. Eh, tidak di jawab. Cuma senyum aja. Setahu Bagong, menjawab salam di syariat selamat itu harus lo. La ini kok begitu, Bagong lantas memakluminya. Kedua, setahu Bagong menghormati orang itu adalah perlu. Namun, Bagong kok heran dengan tingkah aparat yang suka merendahkan jelata.

Lalu, waktu Bagong kebingungan mencari hal yang disuruh oleh seorang aparat. Bagong tanya baik-baik, eh Bagong Cuma jadi korban cuek. Pas ngomong, yang diajak ngomong tidak menatapnya. Bagong sih sadar, bagong itu Cuma makhluk kampungan. Bagong jelas bukan pejabat negeri yang diciumi pantatnya. Jadi wajar aja kalo pas Bagong ngomong, aparatnya gak nengok muka Bagong, karena muka Bagong bukan pantat. Hehehe

Apapun yang Bagong lakukan hanya menjadi bom bagi dirinya sendiri. Jelas gaya kampung tidak berlaku di negeri yang semuanya serba normatif. Guru suraunya bilang itu pantat, pejabat negeri akan memandangnya lumbung tinja emas. Idealisme Bagong semakin luntur mendekati masa akhir. Namun bagaimanapun berbeda, Bagong mengikuti wejangan guru suraunya. Fi’lu kulli amrin, miturut regulasi seng berlaku.


Hak perogratif warga negeri supmak idealnya hanya 4 tahun. Itupun kalau warganya berhasil mengikuti gaya pantatisasi pejabatnya. Akhirnya, dengan pengalaman empiris yang Bagong alami, Bagong memutuskan kembali ke surau. Di sana ditemuinya guru yang tengah berdzikir. “guru, saya ini kok……”.  Gurunya menyela lantas berkata, “ Di dalam komoditas yang kau hadapi sekarang, kau sedang dihadapkan pada bagian pantat dan kelamin. Kedua sisi adalah sumber dan cikal bakal terciptanya manusia hebat dan saluran kesehatan manusia. Namun, keduanya adalah aurat yang perlu kau tutupi, pun menjadi sumber kekacauan di bumi. jadi, jangan heran kalau semuanya beda dengan apa yang pernah kita bahas di surau. Suraumu ini hanya majlis yang mengkaji hati. Dan hati tidak berada di pantat dan kelamin. Kau perlu mengkaji pantat dan kelamin agar kau tahu, bahwa ada kesinambungan di dalamnya dengan hati. Jadi, 4 tahun ini pertahankan matamu dari pantat, jaga hidungmu dari bau tinja.” Bagong kini paham, lantas ia berdiri dan mengambill wudhu. ia takut mukanya menjadi seperti pantat dan kelamin, pun pola pikirnya. 

Minggu, 08 Januari 2017

7 Mantra Sakti yang Mengubah Manusia Menjadi Mulia


Siapa yang tidak mau menjadi mulia? Tentu semua orang menginginkannya. Mulia bisa dimaknai menduduki satu posisi martabat yang tinggi (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dengan posisi ini, seseorag akan dinilai sebagai pribadi yang bermartabat. Di mata manusia, orang bisa dinobatkan menjadi mulia karena beberapa faktor yang menyertainya. Hal tersebut bisa berupa harta, ilmu, kedudukan sosial, dan lain sebagainya. Namun itu sudah lumrah. Bagaimana menjadi manusia yang mulia di hadapan Allah?
Inilah 7 mantera yang bisa mengantarkan manusia seperti kita menduduki posisi mulia di hadapan-Nya.
1.      ان يقول عند أبتداء كلّ شىء بسم الله
Mengucapkan lafadz Bismillahirrahmanirrahim saat hendak melakukan kegiatan apapun (kecuali perihal yang bersifat makruh dan haram). Bisa kita jumpai zaman saat ini sering orang lupa mengucapkan mantera ini. Padahal, lafadz ini memiliki begitu besar dampak di depan Allah SWT. Jadi, mari kita mulai melakukan aktifitas sehari-hari diiringi dengan basmallah.
2.       والثنية : ان يقول بعد فراغ كل شيء الحمد لله
Mengucapkan alhamdulillaahirabbil ‘alamin setelah selesai melakukan aktifitas apapun (kecuali yang bersifat haram dan makruh). Sering juga kita lupa dengan satu mantera ini. Sehabis makan misalnya, kita cenderung langsung pergi begitu saja. Padahal, dengan lafadz hamdalah ini akan mengajak kita menjadi pribadi yang mulia di hadapan Allah SWT.
3.        والثالثة : أذا جرى على لسانه ما لا يعنيه ان يقول استغفر الله
Mengucapkan istighfar apabila lisan kita mengucapkan hal-hal yang tidak berfaedah. Contoh, menggunjing, menggosip, membual, dan lain sebagainya. Dengan adanya istighfar, akan menghapuskan dosa yang tak sengaja dilakukan oleh lisan kita. Yah, memang kita pintar sekali bersilat lidah. Maka dari itu, kebiasaan membaca mantera ini akan sangat membantu sekali menjadikan kita menjadi calon kuat manusia mulia dan bahagia.
4.       وارابعة : أذا اراد فعلا غدا ان يقول ان شاء الله
Mengucapkan insaa allah kala akan mengucapkan rencana lain waktu. Sering kita melalikan mantera ini. Pada umumnya, kita sering mengucapkan kepastian hadir dalam sebuah janji. Padahal, bagaimana pun kepastian itu berdasarkan Iradah Allah. Sebagai hamba, senantiasanya kita melafadzkan mantera ini agar apa yang kita rencanakan bisa terkabul. Lantas, kita dinobatkan sebagai orang yang tepat janji. Dampaknya, kita dihormati orang lain. Tidak hanya itu, kita mulia di hadapan Allah.
5.      والخامسة : أذا استقبل اليه فعل كل مكروه ان يقول لاحول ولا قوّة الا بالله العلىّ العظيم
Apa yang sering kita ucapkan saat iki melihat sesuatu yang mengherankan yang membuat kita takjub? Oh My Gosh, Ya Ampun, Astaga? Atau mungkin ekspresi lain. Nyatanya, islam memiliki mantera sendiri untuk kondisi ini. Kita mengucapkan لاحول ولا قوّة الا بالله العلىّ العظيم saat melihat perihal yang menakjubkan, seperti melihat ular berkepala lima atau yang lainnya. Mantera ini juga manjur membuat kita menjadi pribadi yang mulia.
6.      واسادسة : أذا اصابته مصيبة ان يقول انّا لله وانّا اليه اجعون
Mantera ini agak sulit diucapkan, karena lafadz istirja’ ini bertempat dikala mendapat musibah. Banyak dari beberapa orang jarang mengucapkannya. Seperti halnya saat tersandung. Bukannya mengucapkan lafadz ini, malah cenderung mengumpat dengan kata-kata kasar. Dengan kebiasaan mengucapkan lafadz ini juga yang mengantarkan kita menjadi orang yang bahagia.
7.      واسابعة : لايزال علىّ لسانه فى الليل والنهار كلمة لااله الا الله محمد رسول الله
Mantera ini yang tidak sembarang orang bisa menjadikannya kebiasaan. Melafadzkan tahlil siang dan malam nampaknya menjadi sangat berat, karena mungkin tidak terbiasa dan tersingkirkan oleh aktivitas lain. Hemat penulis, mantera ini bisa dilafadzkan setelah sholat fardhu. Tidak sulit bukan?


Itu tadi adalah 7 mantera yang manjur menjadikan kita menjadi manusia yang mulia di hadapan manusia dan Allah. Tidak sulit kok, mari latih diri kita dengan mengucapkan mantera-mantera diatas agas menjadi penghias hari kita. Tidak percaya? Silahkan mencoba! J

Jumat, 02 Desember 2016

"Kenapa Aku Tak Diciptakan Sebagai Pohon yang Ditebang?"



Hari itu di depan seluruh kabilah, ‘Atiq (Panggilan Abu Bakr sebelum Islam) berkesempatan menyampaikan khitobahnya perihal dipilihnya ia memimpin umat setelah teman yang Haq. Dia lah orang yang menemukan tahta keimanan sempurna dalam dirinya lewat perenungan logika dan hati, kemantapan dan keteguhan hati setelah datangnya warta daripada pendeta suci tentang utusan Al-Haq yang akan memberikan penerangan seluruh umat dan penyeru panji Al-Haq. ‘Atiq mengawali sambutannya.

 “Hai kau Muslimin, saya telah diangkat menjadi pemimpin kalian, tetapi itu tidak berarti bahwa saya adalah yang terbaik diantara kalian. Maka jika saya benar, bantulah, dan jika saya salah, betulkanlah!
Ingatlah, orang yang lemah diantara kalian menjadi kuat di sisiku, hingga saya serahkan kepadanya haknya! Dan ingatlah, orang yang kuat diantara kalian menjadi lemah di sisiku, hingga saya ambil yang bukan haknya daripadanya.
Taatilah saya selama saya mentaati Allah dan Rasul-Nya! Dan jika saya tidak taat, maka tak ada keharusan bagi kalian untuk mentaatiku!”

Pidato yang disampaikan ‘Atiq di bawah satu deret tangga mimbar (tidak berani menduduki mimbar karena itu adalah tempat teman Haqnya) memberikan pesan tentang pribadinya sebagai seorang pemimpin kabilah seluruhnya.

Selesainya penutupan pidato, Al-Farruq mendapati ‘Atiq duduk menutup wajahnya dengan linangan air mata membasahi pipinya.

“kenapa pula kau menangis, ya Shiddiq?” Faruq merangkulkan kedua tangannya kepundak ‘Atiq.
“Aku tidaklah pantas mendapatkan jabatan ini. Aku takut pada kelemahanku, yang mana nanti akan menyelewengkan apa-apa yang menjadi hukum temanku Al-Haq.” ‘Atiq meneruskan, “kenapa aku tidak diciptakan sebagai batang pohon yang ditebang?”

Farruq memeluk erat kawannya sembari berbisik. “Kau adalah siapa yang telah Allah terakan dalam firman-Nya sebagai teman Rasul didalam gua.”

‘Atiq tak kuasa menahan derai air mata kegelisahan,”kenapa bukan kau saja Farruq yang menerima mandat ini?”

Farruq berdiri, menempelkan kepalan tangannya didada kiri. “Sungguh Demi Allah yang bertahta atas segala sesuatu, ditebas pundakku tanpa dosa itu lebih baik dari pada memimpin umat yang didalamnya terdapat Abu Bakr, (sahabat Rasul dalam gua).”


‘Atiq tertunduk dengan isak tangis yang menjadi-jadi, lalu berucap, يا مقلب القلوب,ثبت قلبي على دينك

Minggu, 06 November 2016

Pendidik dan Peserta Didik dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Setiap manusia yang diciptakan di dunia ini tidak akan pernah bisa terlepas oleh yang namanya pendidikan. Alam diciptakan pun ini syarat akan potensi yang bisa dimanfaatkan. Pemanfaatan segala potensi yang ada di bumi ini bisa berjalan maksimal bila manusia memiliki daya kredibilitas dan daya intelegensi yang cukup. Untuk mendapatkan kesemuanya itu, maka diadakan yang namanya pendidikan.
Pendidikan memiliki unsur-unsur yang membangunnya. Salah duanya adalah pendidik dan peserta didik. Keduanya sangat terikat satu sama lain dalam pendidikan. Pendidik tidak akan bisa melakukan pendidikan bila tidak ada peserta didik. Begitupun juga sebaliknya, peserta didik tidak akan berkembang secara maksimal bila tidak mendapatkan pendidikan yang cukup yang dilakukan oleh pendidik.
Makalah ini akan mengupas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dua kata diatas, pendidik dan peserta didik. Aspek yang dibahas adalah pengertian pendidik maupun peserta didik, tujuan pendidik dan peserta didik, syarat menjadi pendidik, tugas dan kewajiban pendidik maupun peserta didik, dan etika pendidik dan peserta didik dalam pendidikan.

B.   Rumusan Masalah

Adapun makalah ditulis dengan pembahasan tentang:
1)      Pengertian pendidik
2)      Tujuan pendidik
3)      Kedudukan pendidik
4)      Syarat menjadi pendidik
5)      Pengertian peserta didik
6)      Tugas dan kewajiban peserta didik
7)      Etika peserta didik

C.   Maksud dan Tujuan
Maksud ditulisnya makalah filsafat pendidikan islam yang berjudul “Hakikat Pendidik dan Peserta Didik Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam” adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam dan juga sebagai bahan diskusi presentasi kelas.








BAB II
ISI
1.    Pengertian pendidik
Secara etimologi Kata pendidik berasal dari stem didik yang mendapat prefix pe-, yang memiliki arti memelihara,merawat, dan memberi latihan agar seseorang mencapai ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan seperti sopan santun, akal budi, akhlak, dan intelektualitas. Selanjutnya dengan menambah awalan pe- menjadikan makna sebagai orang yang secara aktif melakukan kegiatan pendidikan.
Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab mendidik anak agar dapat berfikir secara kritis, berfikir secara logis, berfikir secara kreatif dan berfikir secara reflektif. (Amir D. Indrakusuma, 1978, 15).
Dalam pengertian yang lebih luas pendidik  dalam persfektif pendidikan islam adalah setiap orang yang bertanggung jawab terhadap upaya pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani peserta didik agar dapat menunaikan tugas-tugas kemanusiaan  yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam. Kategori pendidik bisa meliputi semua elemen yang mempengaruhi perkembangan anak dari dalam kandungan, menuju kedewasaan, bahkan hingga meningal dunia.
Dalam konteks pendidikan islam, Al-Ghozali menggunakan istilah pendidik yang disebut mu’allim, muaddib, mudarris, dan al- Walid.
a.       Mu’allim (guru)
Mu’allim adalah orang yang memiliki kemampuan unggul dibandingkan dibandingkan peserta didik, yang dengannya ia dipercaya mengantarkan peserta didik kearah kesempurnaan dan kemandirian. Mu’allim menjadi transmitter bagi peserta didik dalam memperluas cakrawal pengetahuan.
b.      Mu’addib (Pendidik)
Mu’addib adalah seorang pendidik yang bertugas untuk menciptakan suasana belajar yang dapat menggerakkan peserta didik untuk berprilaku atau beradab sesuai dengan norma-norma, tata susila dan sopan santun yang berlaku dalam masyarakat.
c.       Mudarris (pengajar)
Mudarris memiliki arti orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi, serta memperbarui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat dan minat dan kemampuannya.
d.      Al- walid
Al-walid memiliki makna orang yang senantiasa memberikan bimbingan terhadapa yang mencakup aspek keilmuan, kerohanian, ke-Tuhan-an dari masa kecil hingga mencapai kedewasaan.
2.    Tujuan Pendidik
Tujuan pendidik adalah memikul tanggung jawab untuk mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang dimaksud adalah mampu mempelajari ilmu pengetahuan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, pembentukan akhlaq, dan tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pembentukan akhlak adalah kombinasi seimbang antara ilmu itu sendiri dan amal perbuatan. Sebagaimana Al-Ghozali menyebutkan bahwa ilmu yang tidak disertakan dengan amal itu namanya gila, dan amal tidak menggunakan ilmu itu akan sia-sia. Keseimbangan antara amal dan ilmu itu musti sejalan. Maksudnya ilmu itu harus amaliah dan amal itu harus ilmiah, sehingga terjadi keharmonisan. Dari keharmonisan tersebut akan muncul rasa takut kepada Allah. Bagi siapapun yang bertaqwa kepada Allah akan dijanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan inilah (kebahagiaan dunia dan akhirat) yang menjadi progresitas guru dalam mencapai tujuan pendidikan.
Pendidik seyogyanya memperhatikan tiga aspek di bawah sebagai tujuan mendidik.
·         Aspek Keilmuan, yang mengantarkan manusia agar senang berfikir, menggalakkan penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan, menjadi manusia yang cerdas dan tangkas.
·         Aspek kerohanian, yang mengantarkan manusia agar berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur dan berkepribadian kuat.
·         Aspek ke-Tuhan-an, yang mengantarkan manusia beragama agar dapat mencapai keahagiaan di dunia dan akhirat.




3.    Kedudukan Pendidik
Pendidik akan selalu memiliki kedudukan sendiri sebagai seorang yang bertanggung jawab terhadap proses pendidikan. Adapan kedudukan pendidik ditulis berdasarkan konsep yang diutarakan Al-Ghozali dalam “ihya’ ulumuddin”.
·         Kedudukan dengan sifat naluriyah
“apabila ilmu pengetahuan itu lebih utama dalam segala hal, maka mempelajarinya adalah mencari yang lebih mulia itu. Maka mengajarkannya adalah memberikan faedah bagi keutamaan itu.”
Kedudukan pendidik disini sangatlah mulia, karena secara naluri orang yang berilmu akan dihormati dan dimuliakan oleh orang lain, serta mendapatkan posisi yang dekat dengan Allah. Jadi, bila ilmu itu mulia, maka mengajarkannya itu adalah memberika kemuliaan.
·         Kedudukan dengan Kemanfaatan Umum.
Al-Ghozali dalam “Mizanul ‘Amal” mengatakan:
“Orang yang mempunyai ilmu itu berada dalam keadaan berikut:
ü  Mencari faedah dan guna ilmu
ü  Mencari hasil ilmu pengetahuan sehingga ia tidak bertanya-tanya
ü  Memberikan wawasan ilmu dan mengajarkannya. Dan inilah keadaan paling mulia baginya. Jadi barangsiapa telah mencapai ilmu pengetahuan, kemudian ia dapat mengambil faedahnya dan selanjutnya diajarkan, maka ia adalah laksana surya yang menyinari.”
·         Kedudukan dengan unsur yang dikerjakan.
Al-Ghozali mengatakan bahwa seorang guru adalah berurusan langsung dengan hati dan jiwa manusia, dan wujud yang paling mulia di muka bumi ini adalah manusia. Bagian paling mulia dari bagian-bagian tubuh manusia adalah hatinya, sedangkan guru adalah bekerja menempurnakannya, membersihkan, mensucikan dan membawakan hati itu mendekatkan kepada Allah SWT.
Secara ekplisit Al-Ghozali memberika sinyal tanda bahwa seorang guru adalah orang yang menempati status mulia di dataran bumi ini. Ia mendidik jiwa, hati, akal dan roh manusia.
Keduduk pendidik lain adalah sebagai berikut:
ü  Merupakan profesi
ü  Merupakan ibadah kepada Allah
ü  Merupakan tugas kekhalifahan dari Allah SWT.
Adapun kedudukan pendidik yang ditinjau dari tugas dan kewajibannya adalah sebagai berikut:
ü  Mengikuti jejak Rasulullah dalam tugas dan kewajibannya.
Guru hendaknya menjadi wakil dan pengganti Rasulullah, yang mewarisi ajaran-ajarannya dan memperjuangkan dalam kehidupan masyarakat di segala penjuru dunia, demikian pula perilaku, semuanya harus mengikuti akhlak Rasulullah, karena bagaimanapun beliau adalah uswatun hasanah.
ü  Memberikan kasih saying terhadap anak didik
Guru adalah sebagai orang tua kedua (al-walid) bagi peserta didik. Jadi sudah seharusnya guru memberikan kasih sayang yang maksimal kepada peserta didik. Jadi dari sini akan terjalin hubungan psikologi secara naluriyah hubungan guru dan anak. Sehingga bisa memunculkan keharmonisan dalam pendidikan.
ü  Menjadi teladan bagi anak didik
Guru harus bisa mengamalkan ilmunya. Mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi larangannya. Bagaimanapun apa-apa yang dilakukan oleh guru akan menjadi contoh empiris yang nantiny akan diikuti oleh peserta didik. Sampai pada pepatah mengatakan, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”
ü  Menghormati kode etik guru.
Guru yang mengampu satu bidang keahlian sebaiknya tidak merendahkan bidang yang lain. Karena bidang itu adalah wujud cabang daripada ilmu, dan ilmu adalah mulia. Menghormatinya pun memuliakan pelaku.
4.    Syarat-syarat Kepribadian Pendidik
Seorang pendidik memiliki kedudukan yang mulia, maka untuk mendapatkan predikat pendidik seseorang harus memenuhi kategori standarisasi menjadi pendidik. Adapan kepribadian yang dimaksud adalah:
ü  Sabar menerima masalah yang ditanyakan murid dan harus diterima baik.
ü  Senantiasa bersifat kasih dan tidak pilih kasih
ü  Jika duduk harus sopan, tidak riya’/pamer.
ü  Tidak takabur, kecuali terhadap orang yang dhalim, dengan maksud mencegah dari tindakannya.
ü  Bersikap tawadlu’ dalam pertemuan-pertemuan
ü  Sikap dan pembicaraannya tidak main-main
ü  Menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua muridnya.
ü  Menyantuni serta tidak membentak-membentak orang bodoh
ü  Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya.
ü  Berani berkata : saya tidak tahu, terhadap masalah yang tidak dimengerti.
ü  Menampilkan hujjah yang benar. Apabila ia berada pada hak yang salah, maka bersedia ruju’ pada kebenaran.

5.    Pengertian Peserta Didik.
 Al-Ghozali menggunakan istilah Al-Shobiy, al-Mutaalim dan Tholibul Ilmi. Peserta didik dapat diartikan dalam arti luas sebagai orang yang sedang mengalami perkembangan jasmani dan rohani sejak awal terciptanya dan merupakan objek daripada pendidikan.
Dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan yang masih berjalan, maka peserta didik dianggap belum dewasa hingga membutuhkan bimbingan orang lain untuk menjadikannya dewasa. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta  sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran
Sebagai individu yang tengah mengalami fase perkembangan, tentu peserta didik tersebut masih banyak memerlukan bantuan, bimbingan dan arahan untuk menuju kesempurnaan. Hal ini dapat dicontohkan ketika seorang peserta didik berada pada usia balita seorang selalu banyak mendapat bantuan dari orang tua ataupun saudara yang lebih tua. Dengan demikin dapat di simpulkan bahwa peserta didik merupakan barang mentah (raw material) yang harus diolah dan bentuk sehingga menjadi suatu produk pendidikan.
Dalam buku Filsafat pendidikan Islam yang ditulis oleh Hasan Basri, dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, hakikat peserta didik terdiri dari beberapa macam yaitu
Peserta didik adalah darah daging sendiri, orang tua adalah pendidik bagi anak-anaknya maka semua keturunannya menjadi anak didiknya di dalam keluarga.
Peserta didik adalah semua anak yang berada di bawah bimbingan pendidik di lembaga pendidikan formal maupun non formal, seperti disekolah, pondok pesantren, tempat pelatihan, sekolah keterampilan, tempat pengajian anak-anak seperti TPA, majelis taklim peserta pengajian di masyarakat yang dilaksanakan seminggu sekali atau sebulan sekali, semuanya orang-orang yang menimba ilmu yang dapat dipandang sebagai anak didik
Peserta didik secara khusus adalah orang-orang yang belajar di lembaga pendidikan tertentu yang menerima bimbingan, pengarahan, nasihat, pembelajaran dan berbagai hal yang berkaitan dengan proses kependidikan. Dengan diakuinya keberadaan seorang peserta didik dalam konteks kehadiran dan keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan bantuan, arahan dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau kedewasaannya sesuai dengan kedewasaannya.Dalam konteks ini seorang pendidik harus mengetahuai ciri-ciri dari peserta didik tersebut. Ciri-ciri peserta didik yaitu:
1.    Kelemahan dan ketidak berdayaannya
2.    Berkemauan keras untuk berkembang
3.    Ingin menjadi diri sendiri (memperoleh kemampuan).
6.    Tugas dan Kewajiban Peserta Didik

ü  Mendahului Kesucian Jiwa
Al-Ghozali mengatakan :
“ mendahlukan kesucian jiwa dari kerendahan akhlak dan perbuatan tercela. Karena ilmu pengetahuan merupakan kebaktian hati, shalatnya jiwa dan mendekatan batin kepada Allah SWT.”
Belajar adalah proses perjalanan panjang dalam mencapai tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Seperti halnya sholat, sholat akan sah bila telah suci dari najis dan hadas. Mencari ilmu juga perlu menghilangkan sifat yang tercela seperti : dengki, takabbur, menipu, angkuh dan sifat tercela lainnya. Bila ada pelajar berperangai buruk tapi cakap aan ilmu pengetahuannya, maka ia hanya mendapatkan kulit luar, bukan isi dan hakikatnya sehingga tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
ü  Bersedia merantau untuk mencari ilmu pengetahuan.
Pelajar harus bisa mencurahkan segala tenaga, jiwa, raga, dan pikiran agar dapat berkonsentrasi sepenuhnya pada ilmu pengetahuan. Oleh karena pikiran dan jiwa yang dibagi-bagi tidak akan memiiki kesanggupan yang maksimal untuk mengetahui hakikat kebenaran suatu ilmu pengetahuan. Pengembaraan ini dimaksudkan agar pelajar mambu menambah pengalaman dan pengetahuan dengan sesungguhnya manambah persahabatan, persaudaraan ; mendewasakan diri dan memperluas wawasan berfikr; mengagungkan kekuasaan Allah SWT.
ü  Tidak Menyombongkan Ilmunya dan menantang gurunya.
Seorang pelajar seharusnya tidak menyombongkan diri dengan ilmu pengetahuannya dan jangan menentang gurunya. Akan tetapi patutlah terhadap pendapat dan nasihat seluruhnya, seperti patuhnya orang sakit bodoh kepada dokter ahli dan pengalaman.
ü  Mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan.
Seorang pelajar haruslah mendahulukan ilmu pengetahuan yang paling pokok dan mullia, kemudian ilmu pengetahuan yang penting, lalu ilmu pengetahuan sebagai pelengkap dan seterusnya, karena ilmu pengetahuan satu dengan lainny adalah erat dan saling berkaitan.
7.    Etika Peserta Didik
Dalam kita “Bidayatu Bidayah”, menjelaskan ada 13 aturan peserta didik dalam beretika:
ü  Jika berkunjung kepada guru harus menghormati dan menyampaikan salam terlebih dahulu.
ü  Jangan banyak bicara di depan guru.
ü  Jangan bicara jika tidak diajak bicara oleh guru.
ü  Jangan bertanya jika belum minta ijin lebih dulu.
ü  Jangan sekali-kali menegur ucapan guru, seperti : katanya fulan demikian, lantas berbeda dengan guru.
ü  Jangan mengisyarati terhadap guru, yang dapat member perasaan khilaf dengan pendapat guru. Kalau demikian itu menganggap murid lebih besar daripadanya.
ü  Jangan berunding dengan teman di tempat duduknya, dan berbicara dengan guru sambil tertawa.
ü  Jika duduk di depan guru jangan menoleh-noleh, tapi duduklah dengan menundukkan kepala tawadlu’ sebagaimana ketika melakukan sholat.
ü  Jangan banyak bertanya waktu guru kelihatan bosan dan kurang enak.
ü  Sewaktu guru berdiri, murid harus berdiri sambil memberikan penghormatan terhadap guru.
ü  Sewaktu guru sedang berdiri dan sudah hendak keluar, jangan menghentikannya hanya karena bertanya.
ü  Jangan bertanya guru saat di tengah perjalanan, tunggulah sampai rumah.
ü  Jangan su’udhon terhadap guru.








BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pendidik adalah setiap orang yang bertanggung jawab terhadap upaya pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani peserta didik agar dapat menunaikan tugas-tugas kemanusiaan  yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam. Kategori pendidik bisa meliputi semua elemen yang mempengaruhi perkembangan anak dari dalam kandungan, menuju kedewasaan, bahkan hingga meningal dunia.
Peserta didik adalah orang yang sedang mengalami perkembangan jasmani dan rohani sejak awal terciptanya dan merupakan objek daripada pendidikan. Peserta didik juga merupakan orang yang senantiasa berkembang untuk menuju kedewasaan dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
Tujuan pendidikan yang dimaksud adalah mampu mempelajari ilmu pengetahuan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, pembentukan akhlaq, dan tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kedudukan pendidik juga bisa dilihat dari hubungan secara naluriyah, kemanfaatan umum, dan apa yang dikerjakan. Pendidik menempati posisi yang mulia karena memberikan kemuliaan kepada peserta didik.
Seseorang pendidik haruslah memiliki pribadi yang mendukunya sebagai pendidik. Seperti tidak sombong, riya’, takabur, dhalim dan harus senantiasa memiliki sifat kasih menyayangi. Peserta didik pun juga begitu, sebagai peserta didik mereka haruslah membersihkan diri untuk menyelami samudera pengetahuan. Tidak berlaku sombong terhadap siapapun atas ilmunya, dan senantiasa tawadhu’ kepada guru.
Peserta didik harus selalu menanamka etika sebagai seorang tholibun. Salah satu etika yang harus diperhatikan adalah dengan tidak bersikap suudzon kepada gurunya.







Daftar Pustaka.

Abu Hamid Al-Ghozali, Ihya ‘Ulumuddin Juz I-III, Isal Babiyul Hilbi wa Syirkah, Kairo, 1957.
Zainuddin, Seluk Beluk Pendidikan Dari Al-Ghozali, Bumi Aksara, Jakarta, 1991.
Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2009.